Aku ingin berjalan
menjadi musafir raga dan jiwa
sampai kutemukan gua kholwat tersembunyi
tempat Tuhan mewujudkan diri
lemparkan tubuhku pada cadas mengancam
biar hancur luluh segala nafas
biar aku mati sebelum ajal
karena dalam mati aku abadi
::.gambar
WAKTU
Diposting oleh
Saif
di
08.18
Bila sampai waktuku aku tahu mulutku kan bisu
air mataku tak kan mengalir lagi pun darahku tak merah lagi
ini jasad sekarat akan beku dan pulanglah jiwaku
tak kan kau lihat lagi tangisku atau senyumku
pun juga tawa dan candaku
tapi itu bukanlah apa bagimu karena aku tak berarti tuk ditangisi
tak mengapa karena ini bukan tentangmu justru tentangku
tentang tapak kakiku di sepanjang jalan
jejak langkah yang kan menjadi hakim pemutus keadilan
sungguh aku tahu perihnya lara jiwa melebihi tubuh fana
jadi mohon lembut kasihmu dan santun maafmu ampunkan aku
meski tak sadarku meski tak sesalku meski tak layakku pada maafmu
ampunkan aku biar tenang tinggalkan tubuh jasadku.
::.gambar
air mataku tak kan mengalir lagi pun darahku tak merah lagi
ini jasad sekarat akan beku dan pulanglah jiwaku
tak kan kau lihat lagi tangisku atau senyumku
pun juga tawa dan candaku
tapi itu bukanlah apa bagimu karena aku tak berarti tuk ditangisi
tak mengapa karena ini bukan tentangmu justru tentangku
tentang tapak kakiku di sepanjang jalan
jejak langkah yang kan menjadi hakim pemutus keadilan
sungguh aku tahu perihnya lara jiwa melebihi tubuh fana
jadi mohon lembut kasihmu dan santun maafmu ampunkan aku
meski tak sadarku meski tak sesalku meski tak layakku pada maafmu
ampunkan aku biar tenang tinggalkan tubuh jasadku.
::.gambar
Mahabbah
Diposting oleh
Saif
di
08.13
Sang kekasih dimabuk kerinduan
dirajam hasrat persatuan
dilepasnya segala baju menghalangi
lalu melemparkan dirinya kedalam bara cinta menggelora
.
Tak ingat lagi ia akan bajunya
bahkan dimana melempar ikat kepala
semua selain kekasih adalah tiada
telah mahsyuk yang ada hanya dia
.
Oh anak yang tak mengerti cinta
memandang samar dengan hina
katanya baju adalah kehormatan
maka dipungutinya kain-kain dengan senang
.
Lalu di luar sana ia bicara cinta
memandang jijik mereka yang melepas bajunya
"melepas kehormatan dan menghinakan"
sedang ia tak mengerti rasa cinta sesungguhnya
.
.
Tahunan-Jepara
::.gambar
dirajam hasrat persatuan
dilepasnya segala baju menghalangi
lalu melemparkan dirinya kedalam bara cinta menggelora
.
Tak ingat lagi ia akan bajunya
bahkan dimana melempar ikat kepala
semua selain kekasih adalah tiada
telah mahsyuk yang ada hanya dia
.
Oh anak yang tak mengerti cinta
memandang samar dengan hina
katanya baju adalah kehormatan
maka dipungutinya kain-kain dengan senang
.
Lalu di luar sana ia bicara cinta
memandang jijik mereka yang melepas bajunya
"melepas kehormatan dan menghinakan"
sedang ia tak mengerti rasa cinta sesungguhnya
.
.
Tahunan-Jepara
::.gambar
Yang Indah
Diposting oleh
Saif
di
08.10
Masuklah kedalam dirimu sendiri
Tatalah dan bersihkan dalamnya
Tumbuhkan bunga dan kehidupan
Buatlah indah seperti taman
Hanya di taman yang indah
Sang kekasih sedia singgah
Siapkan upacara penyambutan
Dengan puji dan penyerahan
_jepara
::.gambar
Tatalah dan bersihkan dalamnya
Tumbuhkan bunga dan kehidupan
Buatlah indah seperti taman
Hanya di taman yang indah
Sang kekasih sedia singgah
Siapkan upacara penyambutan
Dengan puji dan penyerahan
_jepara
::.gambar
...
Diposting oleh
Saif
di
08.05
Gadis cantik itu telah berubah
sebagai nenek tua buruk perangai jelek rupa
bagaimana aku kan jatuh cinta
bila Tuhan telah singkapkan tudungnya?
_____________
Bagaimanakah bila
Jalanmu adalah kesendirian
Rasamu tak terungkapkan
Kau katakan pun tiada yang paham
Semua merasa di rumah
tapi kau merasa bukan
Kau merasa nyaman
tapi mereka tak tahan
Kau terasing dalam kumpulan
Ingin sendiri dalam pesta hingar
Sendiri di pojok ruangan
Mencari tahu siapa dirimu yang benar
::.gambar dari sini
sebagai nenek tua buruk perangai jelek rupa
bagaimana aku kan jatuh cinta
bila Tuhan telah singkapkan tudungnya?
_____________
Bagaimanakah bila
Jalanmu adalah kesendirian
Rasamu tak terungkapkan
Kau katakan pun tiada yang paham
Semua merasa di rumah
tapi kau merasa bukan
Kau merasa nyaman
tapi mereka tak tahan
Kau terasing dalam kumpulan
Ingin sendiri dalam pesta hingar
Sendiri di pojok ruangan
Mencari tahu siapa dirimu yang benar
::.gambar dari sini
MAHA KASIHKU
Diposting oleh
Saif
di
08.03
Ingin kutekadkan kakiku untuk melangkah menuju tamanmu, dengan tubuh dan
gaun lusuhku, tapi hatiku sekarat sungguh, berat mengingat terbata
mengeja namamu, ampuni aku sungguh ampuni aku.
::.gambar dari sini
::.gambar dari sini
Tempat Rahasia
Diposting oleh
Saif
di
08.00
Ada satu tempat indah yang hanya sedikit orang sampai disana. Pernah aku
mengintip indahnya melalui lubang sunyi setelah pintu terkunci. Oh
indahnya tak ada dimana-mana selain disana, memabukkan mata memandang
dan melelehkan air mata, sekali saja menatap lalu rindu tertambat.
Ayunkan kaki berjalan mencari, semoga kereta rahmat menghampiri, hingga
sang sais takdir yang ramah mengantar perindu yang lelah.
::.gambar dari sini
::.gambar dari sini
Gembala Raga
Diposting oleh
Saif
di
07.58
Aku lelah memikul raga, ia seperti anjing gila, dan hasratku adalah
gonggongannya, ia menggigitku hingga luka. Tuhan, bolehkah aku melepas
tali ikatannya? Agar aku terbebas dari kebuasannya. Atau pukullah ia
dengan tangan perkasamu, agar ia tak menggangguku
amin
::.gambar dari sini
amin
::.gambar dari sini
LAHIR
Diposting oleh
Saif
di
07.54
kemarin telah mati
dalam rupa ganjil terlahir kembali
barangkali kau akan berkata
“kau terhina berbau api neraka!”
tapi ini jujurku apa adanya
dalam rupa wajahku tanpa bedak memolesnya
lalu aku berjalan sendiri
karena kau enggan menemani
wajahku telah menakutkanmu
serupa monster terkutuk, katamu
maka kau menendangku
karena bagimu, surga hanya milikmu
jepara50712
::.gambar dari sini
dalam rupa ganjil terlahir kembali
barangkali kau akan berkata
“kau terhina berbau api neraka!”
tapi ini jujurku apa adanya
dalam rupa wajahku tanpa bedak memolesnya
lalu aku berjalan sendiri
karena kau enggan menemani
wajahku telah menakutkanmu
serupa monster terkutuk, katamu
maka kau menendangku
karena bagimu, surga hanya milikmu
jepara50712
::.gambar dari sini
Aku Rindu Pulang
Diposting oleh
Saif
di
07.50
Aku rindu pulang
Kembali dari keterasingan
Tempat kurebah diri dengan tenang
Istirah lelah perjalanan
Aku rindu pulang
Ini rumah bukan kampung halaman
Sakit aku tak kuasa berjalan
Jemput aku bawalah pulang
Tuhan, aku rindu pulang
#pengasingan jiwa, hari ini
::.gambar dari sini
Kembali dari keterasingan
Tempat kurebah diri dengan tenang
Istirah lelah perjalanan
Aku rindu pulang
Ini rumah bukan kampung halaman
Sakit aku tak kuasa berjalan
Jemput aku bawalah pulang
Tuhan, aku rindu pulang
#pengasingan jiwa, hari ini
::.gambar dari sini
Amar Tidak Dengan Cara Ma’ruf, Hasilnya Bukan Nahi Munkar Tapi Nambah Munkar
Diposting oleh
Saif
di
07.45
Sembahyang jumat tadi
benar-benar luar biasa, aneh, seumur-umur baru kali ini aku
mengalaminya. Pada saat khutbah pertama lumrahnya di masjid kami, Mbah
Yai Zahid sebagai khotib akan membaca hamdalah, lalu sholawat, kemudian
seruan taqwa dalam bahasa arab pendek saja lalu adzan untuk menuju
khutbah kedua.
Namun kali ini khutbah pertamanya berbeda, mbah Yai Zahid mengeluarkan fatwa dan ini fatwa yang benar-benar baru dan luar biasa. Beliau berkata kepada seluruh jamaah masjid, bahwa menegur jamaah lain yang berbicara pada saat khutbah berlangsung, hukumnya sunnah. Ya sunnah, benar-benar sunnah yang artinya bila dilakukan akan mendapatkan pahala.
Fatwa ini tergolong aneh bagi jamaah barisan depan dan tengah yang berpengetahuan, karena berbicara saat khutbah berlangsung adalah larangan, bahkan menegur dengan perkataan “diam” begitu saja dilarang. Tapi ini mbah Yai Zahid, khotib malah mengeluarkan fatwa sunnah.
“Ya… memang benar sunnah. Jadi mulai sekarang jamaah jumat, siapapun kecuali khotib yang bicara saat khutbah berlangsung, ingatkan dan tegur agar jangan bicara!”
Jamaah di barisan belakang pun segera melaksanakan fatwa ini, anak-anak yang tadinya ngobrol bisik-bisik ditegur temannya sambil berbisik pula, “huss… diam…!” lalu yang lain menimpali, “kamu juga diam…!”.
Sebentar saja sudah terdengar dengungan dari belakang, para jamaah saling berbisik mengingatkan agar yang lain diam. Semakin lama bisik-bisik itu berubah menjadi semakin keras, terdengar suara Kartompel yang berbadan kekar menegur Cemprot, “Kowe diam atau tak keplak ndasmu Prot?”. Kang Sartaman yang tidak terima adiknya ditegur begitu jadi marah, “HEI… NEGUR YA NEGUR TAPI JANGAN KASAR GITU PEL…!” katanya sambil melotot menahan marah. Kartompel membantah, katanya itu adalah sunnah sebagaimana fatwa mbah Yai Zahid barusan.
Jamaah beranda masjid telah berubah riuh. Sementara keriuhan itu berlangsung aku perhatikan mbah Yai Zahid tetap berdiri di mimbar menunduk, tidak berkata apa-apa. Bagi jamaah barisan tengah, segala keriuhan ini jelas sekali akibat fatwa beliau yang ngawur. Para jamaah menjadi gelisah, geleng-geleng kepala, saling berbisik menyalahkan mbah Yai Zahid, mendesak jamaah barisan depan agar mengkudeta khotib, beberapa bahkan terang-terangan menunjuk mbah Yai Zahid ‘sesat’ lalu keluar meninggalkan masjid.
Lain lagi jamaah barisan depan, mereka tentu sama bingungnya dengan jamaah barisan belakang, namun mereka sejauh ini cukup mampu menahan diri. Mereka hanya saling pandang satu sama lain, sambil sesekali menoleh kebelakang yang semakin riuh, bahkan dibarisan belakang sudah ada yang hampir berkelahi.
Disaat genting itu barulah tiba-tiba mbah Yai Zahid bicara kepada Kang Sholeh muadzin agar mengumandangkan adzan khutbah kedua dengan tambahan, “adzanmu yang paling bagus ya…!”
Mengikuti perintah tersebut, Kang Sholeh yang suaranya seindah Muammar juara qiro’ah tingkat kecamatan, meningkat jadi seindah suara Alghomidi qori’ Masjidil Harom. Para jamaah berangsur tenang karena berbicara saat adzan berlangsung adalah larangan, meski tentu saja di belakang masih ada yang saling sikut.
Khutbah kedua mbah Yai Zahid ternyata tidak kalah mencengangkan, beliau memulai dengan berkata, “fatwa ‘sunnah menegur’ yang tadi telah berakhir. Mulai saat ini bicara saat khutbah adalah haram, menegur jamaah lain juga haram. Melotot kepada orang lain juga HARAM….” Kata beliau tegas.
Selanjutnya beliau menjelaskan alasan beliau mengeluarkan fatwa kontrofersial tadi, beliau ingin menunjukkan kepada kami para jamaah, akibat buruk dari ‘beragama tanpa akal’ dan lebih khusus ‘tabligh tanpa kebijaksanaan’. Beliau menjadikan apa yang kami lakukan tadi berdasarkan fatwa ‘sunnah menegur’ adalah tanda bahwa kami tidak menggunakan akal kami untuk memahami hakikat maksud fatwa beliau. Dan bahwa kekacauan yang barusan terjadi adalah contoh bagaimana bila terjadi saling klaim kekuasaan hukum dalam masyarakat.
“siapa bilang aku tadi nyuruh kalian ribut? Aku nyuruh kalian mengingatkan, menegur orang yang bicara saat khutbah kecuali khotib itu supaya jamaah tenang. Tapi kalian kenapa ngga mikir, bahwa menegur itu tidak harus dengan ngomong? Apa harus pada saat itu juga? saat kalian menegur itu juga kalian sendiri bicara, kalau satu orang yang bicara kemudian ditegur 3 orang, apa bukan berarti malah yang bicara jadi 4 orang?
“Sama, kalau semua orang merasa berhak jadi penegak hukum, maka yang terjadi adalah kalian tidak punya hukum. Karena tingkat pemahaman tiap orang terhadap hukum itu beda-beda, maka yang terjadi kemudian justru malah benturan, tukaran, gontok-gontokan, merasa paling benar sendiri.
“apa kalian ngga sadar waktu kalian menegur sambil melotot itu tadi, kalian maunya nahi munkar tapi justru kalian sedang menambah kemunkaran? Amar itu dengan ma’ruf, tujuannya supaya nahi munkar. Nah kalau kalian amar sambil bawa pentungan dan melotot gitu itu bukan ma’ruf namanya, nanti jadinya malah bertambah kemunkaran….”
***
Sepulang dari sembahyang jumat, aku dan Kang Peno dipanggil ke rumah mbah Yai Zahid. Hal itu berdasar laporan Kang Tarno, bahwa aku dan Kang Peno adalah salah satu yang ikut ribut di barisan belakang. Dan memang benar adanya, kami akui karena kebodohan kami. Hasilnya kami berdua dihukum ngepel dan membersihkan comberan setelah sebelumnya kepala kami berdua dijengguki maju-mundur berulang-ulang sambil berdzikir, “ilang gobloke, ilang gobloke, ilang gobloke….”
::.teruntuk Kang Tarno, awas kowe….
::.Gambar dari sini
Namun kali ini khutbah pertamanya berbeda, mbah Yai Zahid mengeluarkan fatwa dan ini fatwa yang benar-benar baru dan luar biasa. Beliau berkata kepada seluruh jamaah masjid, bahwa menegur jamaah lain yang berbicara pada saat khutbah berlangsung, hukumnya sunnah. Ya sunnah, benar-benar sunnah yang artinya bila dilakukan akan mendapatkan pahala.
Fatwa ini tergolong aneh bagi jamaah barisan depan dan tengah yang berpengetahuan, karena berbicara saat khutbah berlangsung adalah larangan, bahkan menegur dengan perkataan “diam” begitu saja dilarang. Tapi ini mbah Yai Zahid, khotib malah mengeluarkan fatwa sunnah.
“Ya… memang benar sunnah. Jadi mulai sekarang jamaah jumat, siapapun kecuali khotib yang bicara saat khutbah berlangsung, ingatkan dan tegur agar jangan bicara!”
Jamaah di barisan belakang pun segera melaksanakan fatwa ini, anak-anak yang tadinya ngobrol bisik-bisik ditegur temannya sambil berbisik pula, “huss… diam…!” lalu yang lain menimpali, “kamu juga diam…!”.
Sebentar saja sudah terdengar dengungan dari belakang, para jamaah saling berbisik mengingatkan agar yang lain diam. Semakin lama bisik-bisik itu berubah menjadi semakin keras, terdengar suara Kartompel yang berbadan kekar menegur Cemprot, “Kowe diam atau tak keplak ndasmu Prot?”. Kang Sartaman yang tidak terima adiknya ditegur begitu jadi marah, “HEI… NEGUR YA NEGUR TAPI JANGAN KASAR GITU PEL…!” katanya sambil melotot menahan marah. Kartompel membantah, katanya itu adalah sunnah sebagaimana fatwa mbah Yai Zahid barusan.
Jamaah beranda masjid telah berubah riuh. Sementara keriuhan itu berlangsung aku perhatikan mbah Yai Zahid tetap berdiri di mimbar menunduk, tidak berkata apa-apa. Bagi jamaah barisan tengah, segala keriuhan ini jelas sekali akibat fatwa beliau yang ngawur. Para jamaah menjadi gelisah, geleng-geleng kepala, saling berbisik menyalahkan mbah Yai Zahid, mendesak jamaah barisan depan agar mengkudeta khotib, beberapa bahkan terang-terangan menunjuk mbah Yai Zahid ‘sesat’ lalu keluar meninggalkan masjid.
Lain lagi jamaah barisan depan, mereka tentu sama bingungnya dengan jamaah barisan belakang, namun mereka sejauh ini cukup mampu menahan diri. Mereka hanya saling pandang satu sama lain, sambil sesekali menoleh kebelakang yang semakin riuh, bahkan dibarisan belakang sudah ada yang hampir berkelahi.
Disaat genting itu barulah tiba-tiba mbah Yai Zahid bicara kepada Kang Sholeh muadzin agar mengumandangkan adzan khutbah kedua dengan tambahan, “adzanmu yang paling bagus ya…!”
Mengikuti perintah tersebut, Kang Sholeh yang suaranya seindah Muammar juara qiro’ah tingkat kecamatan, meningkat jadi seindah suara Alghomidi qori’ Masjidil Harom. Para jamaah berangsur tenang karena berbicara saat adzan berlangsung adalah larangan, meski tentu saja di belakang masih ada yang saling sikut.
Khutbah kedua mbah Yai Zahid ternyata tidak kalah mencengangkan, beliau memulai dengan berkata, “fatwa ‘sunnah menegur’ yang tadi telah berakhir. Mulai saat ini bicara saat khutbah adalah haram, menegur jamaah lain juga haram. Melotot kepada orang lain juga HARAM….” Kata beliau tegas.
Selanjutnya beliau menjelaskan alasan beliau mengeluarkan fatwa kontrofersial tadi, beliau ingin menunjukkan kepada kami para jamaah, akibat buruk dari ‘beragama tanpa akal’ dan lebih khusus ‘tabligh tanpa kebijaksanaan’. Beliau menjadikan apa yang kami lakukan tadi berdasarkan fatwa ‘sunnah menegur’ adalah tanda bahwa kami tidak menggunakan akal kami untuk memahami hakikat maksud fatwa beliau. Dan bahwa kekacauan yang barusan terjadi adalah contoh bagaimana bila terjadi saling klaim kekuasaan hukum dalam masyarakat.
“siapa bilang aku tadi nyuruh kalian ribut? Aku nyuruh kalian mengingatkan, menegur orang yang bicara saat khutbah kecuali khotib itu supaya jamaah tenang. Tapi kalian kenapa ngga mikir, bahwa menegur itu tidak harus dengan ngomong? Apa harus pada saat itu juga? saat kalian menegur itu juga kalian sendiri bicara, kalau satu orang yang bicara kemudian ditegur 3 orang, apa bukan berarti malah yang bicara jadi 4 orang?
“Sama, kalau semua orang merasa berhak jadi penegak hukum, maka yang terjadi adalah kalian tidak punya hukum. Karena tingkat pemahaman tiap orang terhadap hukum itu beda-beda, maka yang terjadi kemudian justru malah benturan, tukaran, gontok-gontokan, merasa paling benar sendiri.
“apa kalian ngga sadar waktu kalian menegur sambil melotot itu tadi, kalian maunya nahi munkar tapi justru kalian sedang menambah kemunkaran? Amar itu dengan ma’ruf, tujuannya supaya nahi munkar. Nah kalau kalian amar sambil bawa pentungan dan melotot gitu itu bukan ma’ruf namanya, nanti jadinya malah bertambah kemunkaran….”
***
Sepulang dari sembahyang jumat, aku dan Kang Peno dipanggil ke rumah mbah Yai Zahid. Hal itu berdasar laporan Kang Tarno, bahwa aku dan Kang Peno adalah salah satu yang ikut ribut di barisan belakang. Dan memang benar adanya, kami akui karena kebodohan kami. Hasilnya kami berdua dihukum ngepel dan membersihkan comberan setelah sebelumnya kepala kami berdua dijengguki maju-mundur berulang-ulang sambil berdzikir, “ilang gobloke, ilang gobloke, ilang gobloke….”
::.teruntuk Kang Tarno, awas kowe….
::.Gambar dari sini
Ananiyah Bangga Menjadi....
Diposting oleh
Saif
di
07.42
Sehari wes keno semprot 2 kali, pagipagi pakai kaos baru bahan katun
tipis alus nomor 29, kaya distro. Tulisane gedhe "I AM PROUD TOBE A
YOUNG MUSLIM". Kueren banget.
Ujug Mbah Yai Zahid manggil, "kaosmu iku tulisannya apa?"
"basa inggris Yai...." jawabku, "artinya, 'AKU BANGGA JADI PEMUDA MUSLIM'."
"ooo ngono... Tolong ambilkan gunting ya...."
Aku segera menuruti perintah, dan memberikan gunting yang beliau minta. Dan ladalah... tibatiba KRESS KRESS... tulisan gedhe yg keren itu beliau potong, menyisakan perutku yg bolong. Perasaanku berkata, 'alamat....'
"nah... Kalau dibuka gini kan jadi jelas siapa kamu sesungguhnya, coba kulit perutmu itu dibuka pasti lebih jelas lagi." aku menunduk diam menatap kaos keren yang bolong.
"badan kita ini cuma kotoran, apanya yang di-'proud'-kan? Membangga-banggakan diri emangnya apa yg kamu banggakan? Ngga mungkin ada 'muslim' kok membanggakan diri. Ngga mungkin kecuali iblis....
"ojo prat-proud... Prat-proud... Ini...." beliau menyerahkan guntingan kaos yg keren itu, "buat ngelap taek ayam itu...!" :-(
_________
Sorenya waktu asik pesbukan, Kang Tarno datang geser-geser, "pinjem... Pinjem...." lalu dengan seenaknya mutar-muter laman pesbukku. "wuiiih... Apik tenan yo rek... Internet jan apik tenan?"
tibatiba, "loh kok ada yang gini?" katanya, "wah... Wah... Kok aneh ya, kalau para kiyai jaman dulu selalu 'merendahkan diri' dg menyebut dirinya 'al-faqir, al-mudznib, adz-dzalil... Lah kok ini malah memegah-megahkan diri, menamakan diri 'Tentara Allah, Jundulloh, Laskar Jihadis, Penegak Sunnah, kadza wa kadza... Opo pancen wes musim yo?"
"embuh...." jawabku, karena memang tidak tahu.
"ojo mbah-mbuh mbah-mbuh... Ini pesbukmu kok?"
"lah terus piye, apa aku harus ambil pentungan lalu teriak ALLOHU AKBAR di jalan-jalan gitu? Atau koprol, gulingguling masuk comberan gitu?" aku senewen.
"ooo... GEMBLUNG koe...."
Kang Tarno ngeloyor pergi gitu aja, dan tibatiba aku sadar 2 bakwan di piring ilang.
"jiah... PENGALIHAN ISU. Kampret tenan kang Tarno ki...."
#kemplong_ah
Ujug Mbah Yai Zahid manggil, "kaosmu iku tulisannya apa?"
"basa inggris Yai...." jawabku, "artinya, 'AKU BANGGA JADI PEMUDA MUSLIM'."
"ooo ngono... Tolong ambilkan gunting ya...."
Aku segera menuruti perintah, dan memberikan gunting yang beliau minta. Dan ladalah... tibatiba KRESS KRESS... tulisan gedhe yg keren itu beliau potong, menyisakan perutku yg bolong. Perasaanku berkata, 'alamat....'
"nah... Kalau dibuka gini kan jadi jelas siapa kamu sesungguhnya, coba kulit perutmu itu dibuka pasti lebih jelas lagi." aku menunduk diam menatap kaos keren yang bolong.
"badan kita ini cuma kotoran, apanya yang di-'proud'-kan? Membangga-banggakan diri emangnya apa yg kamu banggakan? Ngga mungkin ada 'muslim' kok membanggakan diri. Ngga mungkin kecuali iblis....
"ojo prat-proud... Prat-proud... Ini...." beliau menyerahkan guntingan kaos yg keren itu, "buat ngelap taek ayam itu...!" :-(
_________
Sorenya waktu asik pesbukan, Kang Tarno datang geser-geser, "pinjem... Pinjem...." lalu dengan seenaknya mutar-muter laman pesbukku. "wuiiih... Apik tenan yo rek... Internet jan apik tenan?"
tibatiba, "loh kok ada yang gini?" katanya, "wah... Wah... Kok aneh ya, kalau para kiyai jaman dulu selalu 'merendahkan diri' dg menyebut dirinya 'al-faqir, al-mudznib, adz-dzalil... Lah kok ini malah memegah-megahkan diri, menamakan diri 'Tentara Allah, Jundulloh, Laskar Jihadis, Penegak Sunnah, kadza wa kadza... Opo pancen wes musim yo?"
"embuh...." jawabku, karena memang tidak tahu.
"ojo mbah-mbuh mbah-mbuh... Ini pesbukmu kok?"
"lah terus piye, apa aku harus ambil pentungan lalu teriak ALLOHU AKBAR di jalan-jalan gitu? Atau koprol, gulingguling masuk comberan gitu?" aku senewen.
"ooo... GEMBLUNG koe...."
Kang Tarno ngeloyor pergi gitu aja, dan tibatiba aku sadar 2 bakwan di piring ilang.
"jiah... PENGALIHAN ISU. Kampret tenan kang Tarno ki...."
#kemplong_ah
QULUB AL AHRAR QUBUR AL-ASRAR
Diposting oleh
Saif
di
07.42
Oleh: KH Husein Muhammad
Adalah menarik membaca statemen pemikir muslim klasik paling berpengaruh seanjang zaman; Imâm Abû Hâmid al-Ghazâlî (w. 505 H/1111 M). Dalam buku Masterpicenya, Ihyâ' ‘Ulûm al-Dîn, ia mengutip Imam Alî bin Abî Thâlib yang mengatakan: "Qulûb al-Abrâr, Qubûr al-Asrâr". (al-Ghazâlî, Ihyâ', I/57). Sebagian sufi menyebut:"Qulûb al-Ahrâr, Qubûr al-Asrâr. Hati orang-orang bijak-bestari/bebas-bersih adalah kuburan rahasia). Intinya adalah bahwa pikiran-pikiran mereka banyak yang disimpan dalam hati, bagai di dalam kuburan. Mereka mengerti bahwa gagasan dan kata-katanya sering sulit dipahami oleh umum yang akibatnya bisa buruk dan membahayakan diri. Dalam banyak pengalaman ucapan-ucapan, pernyataan-pernyataan dan pandangan-pandangan mereka dalam isu-isu keagamaan atau ketuhanan acap dianggap oleh "awam" atau yang berpikir seperti orang "awam" telah menyimpang, sesat dan menyesatkan. Mereka dituduh kafir, murtad, musyrik, zindiq dan stigma-stigma prejudis yang sejenisnya. Pada gilirannya "al-abrar" atau "al-ahrar" tersebut divonis hukum halal darahnya dengan mengatasnamakan agama atau Tuhan. Seringkali pula tuntutan penguhukuman yang hampoir selalu dibarengi teriakan-teriakan "Allah Akbar" itu kemudian didukung oleh penguasa dengan alasan menjaga stabilitas atau dengan cara membiarkannya. Sebagian politisi bahkan sebagian tokoh agama, organisasi keagamaan dan partai politik juga mendukung atau paling tidak membiarkan aksi-aksi kekerasan itu terus berlangsung di tengah-tengah masyarakat.
Ucapan-ucapan keagamaan para ‘al-ahrar' yang dianggap menyesatkan itu dalam sejarahnya pada umumnya berhubungan dengan tema-tema yang mengusung pluralisme agama (al-ta'addudiyyah), kebebasan berpikir (al-hurriyyah), kesatuan wujud (wihdah al-wujûd), kemanunggalan kula-Gusti (Ittihâd) atau atau ‘wihdah al-adyân' (kesatuan agama-agama). Sebagian lagi tentang gagasan-gagasan besar yang berkaitan dengan kritik epistemologis dan metodologis. Misalnya gagasan "al-‘Aql Muqaddam ‘ala al-Naql" (Akal mendahului teks agama), "kharq al-Ijma'" (pembatalan consensus) dan sejenisnya. Bahkan juga dalam hal-hal partikular, seperti waris 1:1 untuk laki-laki dan perempuan dan Nikah beda agama, sekedar member contoh. Dalam beberapa waktu belakangan ini, di negeri ini (bahkan di sejumlah Negara), isu-isu di atas, menimbulkan kontroversi tajam bahkan sampai melahirkan fatwa ‘sesat', ‘kafir', murtad, bertentangan dengan agama dan stigma-stigma lain yang membunuh karakter seseorang atau golongan tertentu. Atas dasar fatwa keagamaan tersebut, massa awam terpicu untuk melakukan aksi-aksi kekerasan atas nama keputusan Tuhan/agama.
Kisah Klasik
--------------
Peristiwa-peristiswa kekerasan dan tragedi kemanusiaan atas nama agama tersebut sesungguhnya telah berlangsung hampir sepanjang sejarah kaum muslimin di berbagai tempat di dunia. Korban kekerasan tersebut hampir seluruhnya adalah tokoh-tokoh besar, pemikir besar dan kaum sufi terkenal. Imâm Jalâl al-Dîn al-Suyûthî pernah mengatakan: "ma kâna kabirun fi ‘ashr (fi Qawmin) qathth illa kâna lahu ‘aduwwun min al-safalah" (tidak seorang besar pun dalam suatu zaman/suatu komunitas, kecuali ia memiliki musuh orang-orang awam).
Sejarah kaum muslimin pernah mencatat nama-nama besar yang menjadi korban kekerasan tersebut baik secara fisik, psikologis, deprivasi maupun alienasi sosial. Abû Yazîd al-Busthâmi, seorang sufi besar, diusir dari negaranya. Ini karena ucapannya: "Subhânî mâ a'zhama Sya'nî" (Maha Suci aku betapa Agungnya aku). Dzûn Nûn al-Mishri, sufi terkemuka, digelandang ramai-ramai dipimpin sejumlah ‘ulama', dari Mesir ke Baghdad dengan tangan dan kaki yang dirantai. Publik awam ikut serta menuduhnya kafir zindiq. Sahl al-Tusturî, diusir dari negaranya ke Bashrah setelah dituduh kafir. Ini mungkin gara-gara ucapannya: "al-Taubah Faridhah ‘ala al-‘Abd fi Kulli Nafas"(Taubat adalah wajib bagi setiap hamba Allah pada setiap hembusan nafasnya). Abû Sa'îd al-Kharaz, ulama besar divonis kafir oleh para ulama lain gara-gara tulisannya yang kontroversial. Abû al-Qâsim al-Junaid al-Baghdâd, sufi agung, berkali-kali dikafirkan karena ucapan-ucapannya yang aneh tentang Ketuhanan. Ia akhirnya mendekam di rumahnya sampai mati. Tokoh besar yang paling populer kisah penderitaannya adalah Abû Manshûr Husein al-Hallaj. Ia dituduh kafir dan menyesatkan gara-gara ucapan-ucapannya, antara lain: "Ana al-Haq"(Akulah Kebenaran) atau ucapannya yang lain: "Laisa fî al-Wujûd illa Allah" (tidak ada sesuatupun dalam wujud ini kecuali Tuhan), atau "Ma fi al-Jubbah Illa Allah" (Yang ada di Jubbahku hanya Allah) dan lain-lain. Ia dikenal sebagai pencetus paham ‘ittihâd' (manunggaling kawula lan Gusti). Ia akhirnya divonis mati di tiang gantungan. Sama dengan al-Hallaj adalah Muhyiddîn Ibnû ‘Arabî, seorang sufi dengan predikat populer ‘al-Syaikh al-Akbar' (guru besar). Ia terkenal dengan pandangannya tentang ‘wihdah al-adyân' (kesatuan agama-agama) sebagaimana ungkapan dalam bukunya yang terkenal Tarjuman al-Asywaq atau bukunya yang lain. Ia juga dikenal sebagai pendiri paham ‘wihdah al-wujûd'. Nama-nama tokoh besar lain yang mengalami nasib serupa; dikafirkan, adalah al-Syibli, Syeikh Abû al-Hasan al-Syadzili, ‘Izz al-Dîn bin ‘Abd al-Salam, Taj al-Dîn al-Subkî dan lain-lain. (Baca: Zaki Mubarak, Al-Tasawwuf al-Islâmi fî al-Adab wa al-Akhlâq, hlm. 141-143). Tokoh lain yang mengalami stigmatisasi sejenis adalah kaum filosof semacam Ibn Sina, Ibn Bajah atau Ibn Rusyd.
Kisah Kontemporer
----------------------
Pada era kontemporer, kekerasan yang dilakukan massa awam dengan tuduhan menentang atau merusak kesucian agama juga dialami oleh para pemikir muslim progresif, antara lain Ustaz Mahmûd Muhammad Tâha dari Sudan. Ia harus mengakhiri hidupnya di tiang gantungan dengan vonis pengadilan, gara-gara pikiran-pikiran pembaharuannya yang dianggap menghancurkan syari'ah. Ia menulis buku yang sangat kontroversial: Al-Risâlah al-Tsâniyah (Missi Kedua). Lalu Profesor Nasr Hâmid Abû Zaid dari Mesir. Ia divonis murtad dan diceraikan dari isterinya dengan keputusan pengadilan karena usahanya merekonstruksi metodologi keilmuan Islam konservatif dan kritiknya yang sangat tajam terhadap Imam al-Syâfi'î. Buku-bukunya yang kontroversial antara lain: Al-Imâm al-Syâfi'î wa Ta'sîs al-Ideologia al-Wasathiyah dan Mafhûm al-Nash. Di Indonesia, ada sejumlah nama yang dicaci-maki, dituduh sesat atau murtad dan dihalalkan darahnya. Tokoh paling popular adalah Gus Dur (Allah Yarham) dan Ulil Absar Abdallah. Kita bisa membaca nama-nama mereka, misalnya dalam buku "50 Tokoh Islam Liberal", kumpulan Budi Handrianto, atau buku "Membuka Kedok Tokoh-Tokoh Liberal dalam Tubuh NU".
Saran
-------
Sejumlah ulama antara lain Imam Al-Ghazâlî akhirnya memberi saran bijak kepada kita dengan mengutip ucapan Nabi Muhammad saw: "Kami, para Nabi, diperintahkan untuk mendudukkan orang pada tempatnya, kami bicara dengan mereka menurut kemampuan akal pikiran mereka". Nabi juga mengatakan: "tidak seorangpun bicara kepada massa dengan ucapan-ucapan yang tidak sampai pada akal pikiran mereka, kecuali akan menimbulkan ‘fitnah', kekacauan di antara mereka". Ini tidak berarti bahwa kebenaran dan kebaikan harus disembunyikan atau tidak boleh disampaikan kepada masyarakat sebagaimana hadits Nabi yang melarang siapapun menyembunyikan ilmu pengetahuan (Kitman al-Ilm). Seorang ulama menjawab dengan mengutip ayat al-Qur'an: "Wa La Tu'tuu al-Sufaha Amwalahum" (jangan berikan harta itu kepada orang-orang bodoh). Artinya jangan berikan harta milik mereka manakala mereka masih bodoh. "Fa Hifzh al-Ilm min Man Yufsiduhu wa Yadhurruhu Awla". Menjaga ilmu dari orang-orang yang akan merusak dan membahayakannya adalah lebih baik. Dalam syair yang dikutipnya dari Imâm al-Syâfi'î, Abu Hamid al-Ghazâlî menyampaikan:
فمن منح الجهال علما اضا عه ومن منع المستوجبين فقد ظلم
Fa Man Manaha al-Juhhâla ‘Ilman Adhâ‘ahu
Wa Man Mana'a al-Mustawjibîna fa Qad Zhalam
Memberi mereka yang tak paham,
Pengetahuan (ini) adalah sia-sia
Tetapi menolak memberikannya
kepada yang paham adalah kezaliman.
(Ihyâ', I/57).
Dan al-Ghazâlî juga mengatakan:
ليس كل سر يكشف ويفشى
Laisa Kullu Sirrin Yuksyafu wa Yufsya
Tidak setiap rahasia disingkap dan disebarkan
Seorang sufi besar dari Mesir dalam puisinya menyatakan:
ومستخبر عن سر ليلى تركته بعمياء من ليلى بغير يقين
يقولون خبرنا فأنت امينها وما أنا إن أخبرتهم بأمين
Wa Mustakhbirîn ‘an Sirri Laila Taraktuhu
Bi ‘amyâa min Laila bi Ghair Yaqîn
Yaqûlûna Khabbirna fa Anta Aminuha
Wa Mâ Ana in Akhbartuhum bi Amîn
Mereka memintaku bercerita
tentang rahasia Laila,
aku diam dan membuta saja
Laila tetap dalam keremangan
Mereka mendesak:
"Ceritakan dia kepada kami,
anda orang terpercaya"
Dan aku, O, jika aku ceritakan
Mereka tak lagi percaya.
::.Gambar dari sini
Adalah menarik membaca statemen pemikir muslim klasik paling berpengaruh seanjang zaman; Imâm Abû Hâmid al-Ghazâlî (w. 505 H/1111 M). Dalam buku Masterpicenya, Ihyâ' ‘Ulûm al-Dîn, ia mengutip Imam Alî bin Abî Thâlib yang mengatakan: "Qulûb al-Abrâr, Qubûr al-Asrâr". (al-Ghazâlî, Ihyâ', I/57). Sebagian sufi menyebut:"Qulûb al-Ahrâr, Qubûr al-Asrâr. Hati orang-orang bijak-bestari/bebas-bersih adalah kuburan rahasia). Intinya adalah bahwa pikiran-pikiran mereka banyak yang disimpan dalam hati, bagai di dalam kuburan. Mereka mengerti bahwa gagasan dan kata-katanya sering sulit dipahami oleh umum yang akibatnya bisa buruk dan membahayakan diri. Dalam banyak pengalaman ucapan-ucapan, pernyataan-pernyataan dan pandangan-pandangan mereka dalam isu-isu keagamaan atau ketuhanan acap dianggap oleh "awam" atau yang berpikir seperti orang "awam" telah menyimpang, sesat dan menyesatkan. Mereka dituduh kafir, murtad, musyrik, zindiq dan stigma-stigma prejudis yang sejenisnya. Pada gilirannya "al-abrar" atau "al-ahrar" tersebut divonis hukum halal darahnya dengan mengatasnamakan agama atau Tuhan. Seringkali pula tuntutan penguhukuman yang hampoir selalu dibarengi teriakan-teriakan "Allah Akbar" itu kemudian didukung oleh penguasa dengan alasan menjaga stabilitas atau dengan cara membiarkannya. Sebagian politisi bahkan sebagian tokoh agama, organisasi keagamaan dan partai politik juga mendukung atau paling tidak membiarkan aksi-aksi kekerasan itu terus berlangsung di tengah-tengah masyarakat.
Ucapan-ucapan keagamaan para ‘al-ahrar' yang dianggap menyesatkan itu dalam sejarahnya pada umumnya berhubungan dengan tema-tema yang mengusung pluralisme agama (al-ta'addudiyyah), kebebasan berpikir (al-hurriyyah), kesatuan wujud (wihdah al-wujûd), kemanunggalan kula-Gusti (Ittihâd) atau atau ‘wihdah al-adyân' (kesatuan agama-agama). Sebagian lagi tentang gagasan-gagasan besar yang berkaitan dengan kritik epistemologis dan metodologis. Misalnya gagasan "al-‘Aql Muqaddam ‘ala al-Naql" (Akal mendahului teks agama), "kharq al-Ijma'" (pembatalan consensus) dan sejenisnya. Bahkan juga dalam hal-hal partikular, seperti waris 1:1 untuk laki-laki dan perempuan dan Nikah beda agama, sekedar member contoh. Dalam beberapa waktu belakangan ini, di negeri ini (bahkan di sejumlah Negara), isu-isu di atas, menimbulkan kontroversi tajam bahkan sampai melahirkan fatwa ‘sesat', ‘kafir', murtad, bertentangan dengan agama dan stigma-stigma lain yang membunuh karakter seseorang atau golongan tertentu. Atas dasar fatwa keagamaan tersebut, massa awam terpicu untuk melakukan aksi-aksi kekerasan atas nama keputusan Tuhan/agama.
Kisah Klasik
--------------
Peristiwa-peristiswa kekerasan dan tragedi kemanusiaan atas nama agama tersebut sesungguhnya telah berlangsung hampir sepanjang sejarah kaum muslimin di berbagai tempat di dunia. Korban kekerasan tersebut hampir seluruhnya adalah tokoh-tokoh besar, pemikir besar dan kaum sufi terkenal. Imâm Jalâl al-Dîn al-Suyûthî pernah mengatakan: "ma kâna kabirun fi ‘ashr (fi Qawmin) qathth illa kâna lahu ‘aduwwun min al-safalah" (tidak seorang besar pun dalam suatu zaman/suatu komunitas, kecuali ia memiliki musuh orang-orang awam).
Sejarah kaum muslimin pernah mencatat nama-nama besar yang menjadi korban kekerasan tersebut baik secara fisik, psikologis, deprivasi maupun alienasi sosial. Abû Yazîd al-Busthâmi, seorang sufi besar, diusir dari negaranya. Ini karena ucapannya: "Subhânî mâ a'zhama Sya'nî" (Maha Suci aku betapa Agungnya aku). Dzûn Nûn al-Mishri, sufi terkemuka, digelandang ramai-ramai dipimpin sejumlah ‘ulama', dari Mesir ke Baghdad dengan tangan dan kaki yang dirantai. Publik awam ikut serta menuduhnya kafir zindiq. Sahl al-Tusturî, diusir dari negaranya ke Bashrah setelah dituduh kafir. Ini mungkin gara-gara ucapannya: "al-Taubah Faridhah ‘ala al-‘Abd fi Kulli Nafas"(Taubat adalah wajib bagi setiap hamba Allah pada setiap hembusan nafasnya). Abû Sa'îd al-Kharaz, ulama besar divonis kafir oleh para ulama lain gara-gara tulisannya yang kontroversial. Abû al-Qâsim al-Junaid al-Baghdâd, sufi agung, berkali-kali dikafirkan karena ucapan-ucapannya yang aneh tentang Ketuhanan. Ia akhirnya mendekam di rumahnya sampai mati. Tokoh besar yang paling populer kisah penderitaannya adalah Abû Manshûr Husein al-Hallaj. Ia dituduh kafir dan menyesatkan gara-gara ucapan-ucapannya, antara lain: "Ana al-Haq"(Akulah Kebenaran) atau ucapannya yang lain: "Laisa fî al-Wujûd illa Allah" (tidak ada sesuatupun dalam wujud ini kecuali Tuhan), atau "Ma fi al-Jubbah Illa Allah" (Yang ada di Jubbahku hanya Allah) dan lain-lain. Ia dikenal sebagai pencetus paham ‘ittihâd' (manunggaling kawula lan Gusti). Ia akhirnya divonis mati di tiang gantungan. Sama dengan al-Hallaj adalah Muhyiddîn Ibnû ‘Arabî, seorang sufi dengan predikat populer ‘al-Syaikh al-Akbar' (guru besar). Ia terkenal dengan pandangannya tentang ‘wihdah al-adyân' (kesatuan agama-agama) sebagaimana ungkapan dalam bukunya yang terkenal Tarjuman al-Asywaq atau bukunya yang lain. Ia juga dikenal sebagai pendiri paham ‘wihdah al-wujûd'. Nama-nama tokoh besar lain yang mengalami nasib serupa; dikafirkan, adalah al-Syibli, Syeikh Abû al-Hasan al-Syadzili, ‘Izz al-Dîn bin ‘Abd al-Salam, Taj al-Dîn al-Subkî dan lain-lain. (Baca: Zaki Mubarak, Al-Tasawwuf al-Islâmi fî al-Adab wa al-Akhlâq, hlm. 141-143). Tokoh lain yang mengalami stigmatisasi sejenis adalah kaum filosof semacam Ibn Sina, Ibn Bajah atau Ibn Rusyd.
Kisah Kontemporer
----------------------
Pada era kontemporer, kekerasan yang dilakukan massa awam dengan tuduhan menentang atau merusak kesucian agama juga dialami oleh para pemikir muslim progresif, antara lain Ustaz Mahmûd Muhammad Tâha dari Sudan. Ia harus mengakhiri hidupnya di tiang gantungan dengan vonis pengadilan, gara-gara pikiran-pikiran pembaharuannya yang dianggap menghancurkan syari'ah. Ia menulis buku yang sangat kontroversial: Al-Risâlah al-Tsâniyah (Missi Kedua). Lalu Profesor Nasr Hâmid Abû Zaid dari Mesir. Ia divonis murtad dan diceraikan dari isterinya dengan keputusan pengadilan karena usahanya merekonstruksi metodologi keilmuan Islam konservatif dan kritiknya yang sangat tajam terhadap Imam al-Syâfi'î. Buku-bukunya yang kontroversial antara lain: Al-Imâm al-Syâfi'î wa Ta'sîs al-Ideologia al-Wasathiyah dan Mafhûm al-Nash. Di Indonesia, ada sejumlah nama yang dicaci-maki, dituduh sesat atau murtad dan dihalalkan darahnya. Tokoh paling popular adalah Gus Dur (Allah Yarham) dan Ulil Absar Abdallah. Kita bisa membaca nama-nama mereka, misalnya dalam buku "50 Tokoh Islam Liberal", kumpulan Budi Handrianto, atau buku "Membuka Kedok Tokoh-Tokoh Liberal dalam Tubuh NU".
Saran
-------
Sejumlah ulama antara lain Imam Al-Ghazâlî akhirnya memberi saran bijak kepada kita dengan mengutip ucapan Nabi Muhammad saw: "Kami, para Nabi, diperintahkan untuk mendudukkan orang pada tempatnya, kami bicara dengan mereka menurut kemampuan akal pikiran mereka". Nabi juga mengatakan: "tidak seorangpun bicara kepada massa dengan ucapan-ucapan yang tidak sampai pada akal pikiran mereka, kecuali akan menimbulkan ‘fitnah', kekacauan di antara mereka". Ini tidak berarti bahwa kebenaran dan kebaikan harus disembunyikan atau tidak boleh disampaikan kepada masyarakat sebagaimana hadits Nabi yang melarang siapapun menyembunyikan ilmu pengetahuan (Kitman al-Ilm). Seorang ulama menjawab dengan mengutip ayat al-Qur'an: "Wa La Tu'tuu al-Sufaha Amwalahum" (jangan berikan harta itu kepada orang-orang bodoh). Artinya jangan berikan harta milik mereka manakala mereka masih bodoh. "Fa Hifzh al-Ilm min Man Yufsiduhu wa Yadhurruhu Awla". Menjaga ilmu dari orang-orang yang akan merusak dan membahayakannya adalah lebih baik. Dalam syair yang dikutipnya dari Imâm al-Syâfi'î, Abu Hamid al-Ghazâlî menyampaikan:
فمن منح الجهال علما اضا عه ومن منع المستوجبين فقد ظلم
Fa Man Manaha al-Juhhâla ‘Ilman Adhâ‘ahu
Wa Man Mana'a al-Mustawjibîna fa Qad Zhalam
Memberi mereka yang tak paham,
Pengetahuan (ini) adalah sia-sia
Tetapi menolak memberikannya
kepada yang paham adalah kezaliman.
(Ihyâ', I/57).
Dan al-Ghazâlî juga mengatakan:
ليس كل سر يكشف ويفشى
Laisa Kullu Sirrin Yuksyafu wa Yufsya
Tidak setiap rahasia disingkap dan disebarkan
Seorang sufi besar dari Mesir dalam puisinya menyatakan:
ومستخبر عن سر ليلى تركته بعمياء من ليلى بغير يقين
يقولون خبرنا فأنت امينها وما أنا إن أخبرتهم بأمين
Wa Mustakhbirîn ‘an Sirri Laila Taraktuhu
Bi ‘amyâa min Laila bi Ghair Yaqîn
Yaqûlûna Khabbirna fa Anta Aminuha
Wa Mâ Ana in Akhbartuhum bi Amîn
Mereka memintaku bercerita
tentang rahasia Laila,
aku diam dan membuta saja
Laila tetap dalam keremangan
Mereka mendesak:
"Ceritakan dia kepada kami,
anda orang terpercaya"
Dan aku, O, jika aku ceritakan
Mereka tak lagi percaya.
::.Gambar dari sini
KANG TARNO NGOMYANG
Diposting oleh
Saif
di
07.36
Hai awakku, koe iku asu
Rino wengi ngributi aku
Kakean mangan kakean penjalukan
Minggato mblusuko kuburan.
Hai awakku, koe iku asu
Anamu namung dadi beban
Ngrumati kewan alas rak kenal pecutan
Ndang lungao ojo ganggu aku.
Hai awakku, koe iku asu
Aku wes ra betah, tinggalno aku
Aku arep lungo ojo nggendoli
Iki dudu omah, ora sing tak kangeni.
Hai awakku, koe iku asu
Tinggalno aku
Wis ojo ngributi aku
Aku ra pengin dadi asu.
#KangTarno_22agustus13
::.gambar dari sini
Rino wengi ngributi aku
Kakean mangan kakean penjalukan
Minggato mblusuko kuburan.
Hai awakku, koe iku asu
Anamu namung dadi beban
Ngrumati kewan alas rak kenal pecutan
Ndang lungao ojo ganggu aku.
Hai awakku, koe iku asu
Aku wes ra betah, tinggalno aku
Aku arep lungo ojo nggendoli
Iki dudu omah, ora sing tak kangeni.
Hai awakku, koe iku asu
Tinggalno aku
Wis ojo ngributi aku
Aku ra pengin dadi asu.
#KangTarno_22agustus13
::.gambar dari sini






